Siapakah Sang Gembala? Migdal Eder, Para Gembala Padang Efrata, dan Rekonstruksi Makna Natal dalam Teologi Bait Allah Kedua
Migdal Eder, Para Gembala Padang Efrata, dan Rekonstruksi Makna Natal dalam Horizon Teologi Penebusan
Oleh : Dr. Dharma Leksana, M.Th., M.Si.
Abstrak
Artikel ini mengkaji identitas dan status sosial para gembala yang menerima pewahyuan malaikat pada peristiwa kelahiran Yesus (Luk. 2:8โ20) dengan menelusuri signifikansi teologis dan historis Migdal Eder – โMenara Kawanan Domba.โ
Dengan menggunakan pendekatan biblika-historis dan analisis tradisi Yudaisme Bait Allah Kedua, artikel ini berargumen bahwa para gembala di padang Efrata tidak dapat direduksi sebagai kelompok marginal secara sosial-religius, melainkan kemungkinan besar merupakan penjaga domba kurban yang terintegrasi dalam sistem liturgis Bait Allah.
Temuan ini menantang konstruksi populer tentang gembala sebagai simbol kemiskinan semata, dan menawarkan pembacaan ulang Natal sebagai deklarasi awal Kristologi Anak Domba Allah. Artikel ini juga merefleksikan relevansi figur gembala dalam konteks dunia modern sebagai simbol kepemimpinan etis, pelayanan kurban, dan penjagaan makna di tengah krisis spiritual kontemporer.
Kata kunci: Migdal Eder, Gembala Betlehem, Natal, Anak Domba Allah, Teologi Bait Allah, Kristologi
Pendahuluan
Natal telah diingat, tetapi tidak lagi sepenuhnya dipahami. Dalam banyak refleksi populer dan liturgi pastoral, kelahiran Yesus sering diperlakukan sebagai peristiwa sentimental yang berdiri sendiri, terlepas dari sistem kurban Bait Allah, ekspektasi Mesianik Yahudi, dan kerangka besar teologi penebusan. Akibatnya, Natal mengalami reduksi makna: dari sebuah deklarasi kosmis tentang keselamatan menjadi sekadar perayaan suasana religius.
Artikel ini mengambil posisi kritis-konstruktif dengan menempatkan kembali narasi Natal dalam horizon Yudaisme Bait Allah Kedua. Yesus tidak lahir dalam ruang hampa religius, melainkan di tengah jaringan simbol, ritual, dan harapan eskatologis Israel. Salah satu simpul penting dalam jaringan tersebut adalah Migdal Eder-โMenara Kawanan Dombaโ-yang memiliki bobot teologis signifikan, namun sering diabaikan dalam kajian Natal kontemporer.
Pertanyaan utama artikel ini adalah: Siapakah sesungguhnya para gembala yang ditemui malaikat di padang Betlehem? Apakah mereka benar-benar kelompok marginal yang terpinggirkan, atau justru pelayan liturgis yang memiliki posisi khusus dalam ekonomi sakral Bait Allah?
Migdal Eder dalam Kitab Suci Ibrani dan Tradisi Yahudi
Istilah Migdal Eder pertama kali muncul dalam Kejadian 35:21, yang mengaitkannya dengan wilayah Betlehem-Efrata. Secara harfiah berarti โMenara Kawanan Domba,โ istilah ini menunjuk pada struktur pengawasan pastoral yang berfungsi mengawasi kawanan domba, khususnya di wilayah selatan Yerusalem.
Dalam nubuat Mikha 4:8, Migdal Eder memperoleh dimensi eskatologis:
โDan engkau, hai Migdal Ederโฆ kepadamu akan datang pemerintahan yang dahulu.โ
Teks ini dalam tradisi rabinik-termasuk Targum Yonatan-ditafsirkan secara Mesianik. Migdal Eder tidak hanya dipahami sebagai lokasi geografis, melainkan sebagai simbol restorasi kerajaan Daud dan kedatangan Mesias.
Dengan demikian, Migdal Eder berdiri pada persimpangan antara ruang, ritual, dan harapan Mesianik-sebuah konteks yang sangat relevan bagi narasi kelahiran Yesus.
Para Gembala Padang Efrata: Status Sosial dan Fungsi Ritual
Dalam imajinasi modern, gembala sering dipersepsikan sebagai simbol kemiskinan, keterasingan, dan marginalitas sosial. Persepsi ini tidak sepenuhnya keliru jika diterapkan secara umum dalam konteks agraris kuno. Namun, generalisasi tersebut menjadi problematis ketika diterapkan tanpa diferensiasi pada gembala di padang Betlehem.
Sumber-sumber Mishnah, khususnya Mishnah Shekalim dan Mishnah Bekhorot, mencatat bahwa domba yang dipelihara di sekitar Betlehem disiapkan untuk kebutuhan kurban Bait Allah. Domba-domba ini harus tak bercacat, dijaga secara ketat, dan dipelihara oleh gembala yang memahami standar ritual kemurnian.
Jika para gembala dalam Lukas 2 adalah penjaga domba kurban-sebagaimana sangat mungkin secara geografis dan liturgis-maka status sosial mereka tidak dapat disamakan dengan gembala nomaden biasa. Mereka adalah bagian dari ekonomi sakral, pelayan tidak langsung dari liturgi Bait Allah, dan penjaga simbol penebusan Israel.
Pewahyuan Malaikat dan Simbolisme Teologis
Narasi Lukas 2:8โ20 mencatat bahwa pewahyuan kelahiran Mesias pertama-tama disampaikan kepada para gembala. Pilihan ini bukan kebetulan naratif atau romantisasi pastoral, melainkan pernyataan teologis yang sarat simbolisme.
Jika para gembala tersebut adalah penjaga domba kurban, maka pesan malaikat memperoleh kedalaman makna yang radikal: Mesias dinyatakan kepada mereka yang hidup di tengah simbol penebusan. Bayi yang lahir itu bukan sekadar Raja atau Guru, melainkan Anak Domba Allah-sebuah identitas yang kelak ditegaskan secara eksplisit dalam Injil Yohanes.
Dengan demikian, Natal bukan hanya peristiwa inkarnasi, melainkan deklarasi awal tentang arah hidup Yesus: dari palungan menuju salib.
Natal, Kurban, dan Kesatuan Drama Keselamatan
Inkarnasi dan kurban sering dipisahkan dalam teologi populer: Natal dirayakan sebagai kelahiran, Paskah sebagai penebusan. Artikel ini menegaskan bahwa pemisahan tersebut bersifat artifisial. Dalam terang Migdal Eder, Natal dan Paskah membentuk satu garis keselamatan yang utuh.
Yesus lahir di wilayah yang terkait dengan penyediaan domba kurban; Ia diumumkan kepada penjaga domba; dan hidup-Nya berpuncak pada pengorbanan diri sebagai Anak Domba Allah. Dengan demikian, simbolisme kurban telah menyertai Yesus sejak awal kehidupan-Nya.
Siapakah Gembala dalam Konteks Dunia Modern?
Dalam konteks dunia modern-yang ditandai oleh fragmentasi makna, krisis otoritas moral, dan komodifikasi agama-figur gembala memperoleh relevansi baru. Gembala bukan sekadar metafora kepemimpinan yang lembut, melainkan simbol penjaga makna, pelayan kehidupan, dan penjaga integritas kurban.
Gembala modern adalah mereka yang menjaga nilai di tengah banalitas, melayani tanpa sorotan, dan memahami bahwa kepemimpinan sejati selalu terkait dengan pengorbanan. Dalam pengertian ini, figur gembala melampaui romantisme kemiskinan dan menjadi paradigma etika publik dan spiritual.
Penutup
Dengan menelusuri Migdal Eder dan merekonstruksi identitas para gembala padang Efrata, artikel ini menunjukkan bahwa narasi Natal mengandung kedalaman teologis yang sering terabaikan. Para gembala bukan sekadar simbol marginalitas, melainkan saksi pertama dari identitas Mesias sebagai Anak Domba Allah.
Natal, ketika dikembalikan ke konteks Yudaisme Bait Allah Kedua, muncul bukan sebagai peristiwa terisolasi, melainkan sebagai awal dari drama keselamatan yang mencapai puncaknya di salib. Dengan demikian, memahami siapakah Sang Gembala berarti juga memahami siapakah Sang Anak Domba-dan apa arti penebusan bagi dunia modern.
Daftar Pustaka :
Bauckham, R. (2017). Jesus and the Eyewitnesses. Grand Rapids: Eerdmans.
Brown, R. E. (1993). The Birth of the Messiah. New York: Doubleday.
Edersheim, A. (1993). The Life and Times of Jesus the Messiah. Peabody: Hendrickson.
France, R. T. (2007). The Gospel of Matthew. Grand Rapids: Eerdmans.
Neusner, J. (1991). The Mishnah: A New Translation. New Haven: Yale University Press.
Wright, N. T. (2012). How God Became King. New York: HarperOne.

